Kamis, 16 Mei 2013

PEMBUKAAN LAHAN (EX HUTAN) UNTUK PERKEBUNAN KARET


Pembukaan Lahan untuk Perkebunan Karet
Titik awal dari perencanaan pembukaan lahan adalah penetapan saat yang paling tepat untuk menanam, yaitu pada saat musim hujan besar. Perencanaan pembukaan lahan sampai pada penanaman sebaiknya dipersiapkan dalam bentuk jadwal pekerjaan. Tujuannya agar setiap melakukan kegiatan dan penggunaan bahan/alat lebih efisien dan efektif.
Dalam pelaksanaannya, pembukaan lahan dapat dikelompokkan menurut jenis vegetasi atau tumbuhan yang dominan di areal tersebut, yaitu lahan ex hutan primer atau sekunder, lahan semak belukar/padang alang-alang, lahan ex karet tua.

 PEMBUKAAN LAHAN EX HUTAN
Sebelum dilakukan pembukaan lahan hutan, survei pendahuluan dan pengukuran areal perlu dilakukan. Tujuannya adalah: 1) untuk menentukan apakah lahan tersebut termasuk hutan berat, sedang atau ringan, 2) untuk mendapatkan gambaran tofografi areal apakah datar, bergelombang atau berbukit, 3) untuk mengetahui letak sungai, rawa, perkampungan dll, 4) untuk menentukan budidaya yang sesuai di daerah tersebut, dan 5) sebagai bahan pembantu dalam penyusunan anggaran biaya yang diperlukan.
Pelaksanaan survei biasanya dimulai dari pinggir jalan besar guna memudahkan suplai bahan yang dibutuhkan. Pekerjaan dimulai dengan membuat rintisan dari pinggir blok berupa jalur selebar 1,5-2 m dengan cara membabat vegetasi yang ada arah Timur-Barat atau arah Utara-Selatan.
Pengukuran dilakukan memakai alat ukur untuk setiap 15-25 m, dan setiap 100 m dipasang patok-patok kayu yang pada bagian ujungnya diberi cat warna tertentu.  Untuk membentuk blok seluas 20 ha dibuat rintisan sepanjang 500 m arah Timur-Barat dan 400 m arah Utara-Selatan dan pada setiap titik dipasang patok blok lengkap dengan nomor blok serta luasnya.
Selama dalam pengukuran, juru ukur beserta anggotanya yang berjumlah 10-15 orang mencatat segala hal yang dijumpai pada areal yang dilaluinya dan menggambarkannya dalam peta. Pembukaan lahan yang berasal dari ex hutan dapat dilakukan secara manual, atau secara mekanis atau kombinasi dari kedua sistem tersebut.
Dalam pembukaan lahan dengan cara manual terdiri atas berbagai tahapan kegiatan sebagai berikut:
i           Membabat pendahuluan dan mengimas, vegetasi atau tanaman yang memiliki diamater batang hingga 10 cm ditebang dan dibabat. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pelaksanaan penebangan pohon yang berukuran diameter lebih besar dari 10 cm. Pekerjaan ini dilakukan dengan tenaga manusia menggunakan parang.
ii         Menebang dan merencek. Kegiatan ini dimulai dengan penebangan pohon yang cukup besar dengan menggunakan parang, kapak, atau bahkan menggunakan gergaji rantai (chain saw). Setelah ditebang, pohon tersebut dipotong-potong atau dicincang (direncek). Batang hasil rencekan yang dapat dimanfaatkan dikeluarkan dari areal.
iii        Membuat pancang jalur tanam. Jalur tanam dibuat menurut jarak antar barisan tanaman. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pelaksanaan pembersihan jalur tanam.
iv       Membersihkan jalur tanam. Hasil rencekan yang tersisa ditempatkan di antara jalur tanaman, dengan jarak sekitar 1 m di sebelah kiri-kanan pancang. Dengan demikian akan diperoleh jalur selebar 2 m yang bersih atau bebas dari potongan kayu-kayuan. Pembukaan lahan hutan dengan cara mekanis umumnya dilakukan pada areal yang mempunyai topografi datar sampai dengan berombak. Umumnya penumbangan pohon dilakukan dengan menggunakan traktor.
Secara lebih rinci tahapan kegiatan dalam pembukaan lahan secara mekanis adalah sebagai berikut:
i           Membabat pendahuluan dan mengimas. Jenis vegetasi semak dan atau pohon berkayu ditebas dan menyisakan tunggul dengan tinggi maksimum 40 cm.
ii         Menumbang. Pohon yang berukuran relatif besar maupun kecil ditumbang dengan menggunakan traktor atau menggunakan gergaji rantai. Penumbangan sebaiknya dilakukan sedemikian rupa agar seluruh sistem perakarannya ikut terangkat ke permukaan tanah. Arah kerja dimulai dari pinggir ke arah tengah, dan pohon ditumbangkan arah luar agar tidak menghalangi jalannya traktor.
iii        Merumpuk. Semua kayu yang masih dapat dimanfaatkan dipotong sepanjang 3-5 m, kemudian dikeluarkan dari areal dan sisanya dirumpuk pada daerah rendahan dengan menggunakan traktor rantai D-6 atau D-8.
iv       Pemberantasan alang-alang. Pada tempat-tempat tertentu sering dijumpai alang-alang secara berkelompok. Pemberantasan dilakukan menggunakan herbisida.
v         Membuat pancang jalur tanam. Jalur tanam dibuat menurut jarak antar barisan tanaman.
vi       Membersihkan jalur tanam. Hasil rencekan yang masih tersisa ditempatkan di antara jalur tanaman, dengan jarak 1 m di sebelah kiri-kanan pancang. Dengan demikian akan diperoleh jalur selebar 2 m yang bebas dari potongan-potongan kayu atau ranting.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar